![]() |
Apakah lagi yang belum kau dengar ?
Tentang masyhur Sang Baharunsyah
Piawainya meracik narasi: olahraga, jenaka hingga politik buta
Larik-lirik yang membentang dari Tepian Mahakam hingga Loa Duri
Tak beranilah mereka menyangsi ketajaman beliau filsuf muda
Tapi malam tadi, kulihat ia gamang
Bukan urusanku, apalagi urusanmu
Yang harus kau pahami adalah ia laksana wiridul quthub
Penjaga bukit-bukit sadar
Ketika ia tak lagi sejajar tegak dengan dada, pasti Loa Duri sedang tidak baik-baik saja
Para penyihir bertumbuh bak emisi di jalan raya
makin meriah bersajak tentang tuak dan matahari
Maaf aku harus bilang, kelak ia meledak dalam ubun-ubun pada 2045
Rakyat mabuk oleh ketidakakmengertian puisi
tak membumi tak sampai ke langit
sebaras menghibur dada hampa
Seeperti mantra tetua
Jamban jabok, manok tuha masak gangan
Tak usah dimengerti
sebagaimana ayat-ayat Tuhan tak kau dalami
sebagaimana puisi
makin mirip ajimat
Di akhir hari, kita boleh saja melihat Xi Jin Ping galau bahkan sambat
Abdullah Putin menyisir rambut dengan tangan
Tapi, jangan
Jangan sampai Bayong galau lagi
Rusdi dan resapan
Samarinda, 2021