![]() |
Ilustrasi digitalisasi (Freepik.com) |
Membaca menjadi salah satu kebiasaan krusial manusia sejak dilahirkan. Manusia telah mengenal budaya membaca sejak hampir 5.000 tahun yang lalu, hal ini menjadikan membaca suatu kebiasaaan yang erat kaitannya dengan perkembangan peradaban manusia, yang menjadikannya takkan lekang oleh waktu.
Di era digitalisasi seperti saat ini, segala sendi aktivitas masyarakat seakan bertumpu pada perangkat elektronik sebagai sumbunya. Hampir semua aktivitas manusia dipermudah dengan adanya digitalisasi teknologi di berbagai bidang, mulai dari hal berat sampai hal ringan seperti halnya kegiatan membaca. Tapi apakah suatu hal ketika dipermudah, apakah manusia akan selalu diuntungkan? Akankah kemudahan itu datang tanpa membawa dampak negatif ?
Dalam hal ini, penulis ingin mencatut sedikit perkataan Penjabat Gubernur Kalimantan Timur, Akmal Malik, dalam sambutan beliau di acara Gebyar Anugerah Literasi yang sempat penulis hadiri. Beliau sempat berkata bahwa digitalisasi di era modern ini justru mereduksi atau dalam hal ini mengurangi makna dari literasi, khususnya di kalangan pelajar.
Jika berkaca dari pernyataan diatas pada realitanya peristiwa ini tidak hanya terjadi di kalangan pelajar, tetapi sudah merebak ke seluruh lapisan masyarakat. Dengan hadirnya berbagai gawai canggih yang mendukung kegiatan membaca sebagai upaya peningkatan literasi, stigma terkait membaca telah mengalami peluasan makna, tetapi justru mengurangi esensi atau makna sebenarnya yang ingin dicapai dalam kegiatan membaca itu sendiri. Apakah membaca hanya sekedar menelaah huruf per huruf, kata per kata, tanpa berusaha memahami dan menggali sesuatu dari bacaan itu? Lantas jika literasi hanya disederhanakan seperti demikian apakah kedepannya masih ada ruang untuk pengembangan pemikiran ?
Dengan segala kemudahannya, digitalisasi dalam literasi ibarat pedang bermata dua bagi Kalimantan Timur. Di satu sisi, ia memberikan peluang besar dengan menghadirkan akses yang cepat dan luas terhadap berbagai sumber bacaan, memungkinkan siapa saja untuk membaca kapan saja dan di mana saja. Ini membuka jalan bagi peningkatan minat baca serta mempercepat arus informasi di masyarakat. Namun, di sisi lain, digitalisasi juga membawa tantangan serius. Stimulasi cepat dari perangkat digital berisiko membuat kita hanya sekadar 'menyerap' informasi tanpa benar-benar mencerna dan memahami isi dari bacaan tersebut. Kebiasaan ini, jika dibiarkan, akan mengurangi kedalaman berpikir, daya kritis, dan kemampuan refleksi yang sebenarnya menjadi inti dari literasi sejati.
Maka, tantangan yang perlu dihadapi bukan hanya soal bagaimana memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan akses, tetapi juga bagaimana membangun kesadaran di masyarakat, khususnya generasi muda, bahwa literasi tidak sekadar membaca, melainkan memahami, menganalisis, dan merenungkan. Tanpa pemahaman yang mendalam, literasi kehilangan maknanya, dan potensi kemajuan yang ditawarkan oleh era digital ini akan justru berbalik menjadi ancaman. Kalimantan Timur, dengan segala potensinya, harus mampu mengelola perkembangan digitalisasi ini dengan bijak, agar literasi tetap menjadi pilar penting dalam menciptakan generasi yang cerdas, kritis, dan visioner di masa depan.
______________________________________________________________